Analisis Manfaat Ekonomi Pada Kawasan Hutan Di Mandailig Natal

 

ANALISIS NILAI EKONOMI DAN KONTRIBUSI HASIL HUTAN NON KAYU DI WILAYAH TERTENTU  KPHP MODEL MANDAILING NATAL


Dosen Penanggungjawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Fara Salsabila Syafni Lubis

191201087

HUT 4 D



PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan dengan judul “Analisis Nilai Ekonomi dan Kontribusi Hasil hutan Non Kayu di Wilayah Tertentu KPHP Model Mandailing Natal” ini dengan baik. Pada Kesempatan ini Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu Penulis dalam penyelesaian paper ini, diantaranya Dosen Penganggung jawab Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.  yang telah bersedia menuangkan ilmu dan waktunya untuk membimbing Penulis beserta rekan-rekan yang lain.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari Paper ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

 

Medan,   Maret 2021

 

Penulis

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan adalah kumpulan fungsi biotis yang didominasi oleh pepohonan pada areal luas yang mendukung pengurusan kompleksitas flora fauna dan membentuk perbedaan struktur ikim mikro. Apabila dibandingkan dengan bentuk penggunaan lahan yang lain, ada tipe hutan yang terbentuk berdasarkan pengkelasan karakteristiknya, yaitu fungsi yang terbentuk bukan hanya untuk menyediakan sumberdaya alam dengan jumlah besar, namun untuk membentuk keragaman dari fungsi lingkungan (tata air, udara dan tanah), hingga fungsi sosial budaya untuk dimanfaatkan secara menyeluruh dan lestari.

Hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia, misalnya perambahan hutan, perladangan berpindah- pindah, penebangan hutan, proyek pembangunan seperti pertambangan, transmigrasi dan pembangunan jalan. Untuk menghindari terjadinya kerusakan hutan, bahkan timbulnya lahan kritis, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan memanfaatkan hutan sesuai fungsi. Perlu diketahui bahwa tidak semua fungsi hutan itu sama. Perlu dilakukan penerapan konsep budidaya hutan secara tepat sesuai dengan jenis dan tipe hutan (Indriyanto, 2008).

Hasil hutan non kayu (HHNK) semula disebut hasil hutan ikutan yang berasal dari bagian pohon atau tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat khusus yang dapat menjadi suatu barang yang diperlukan oleh masyarakat, dijual sebagai komoditi ekspor atau sebagai bahan baku untuk suatu industri. Hasil hutan non kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat  khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Pemungutan HHNK pada umumnya merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada di sekitar hutan, bahkan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan HHNK merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagai contoh, pengumpulan rotan dan pemungutan getah (Djajapertjuanda, 2001).

Peran HHNK akhir-akhir ini dianggap semakin penting setelah produktivitas kayu dari hutan alam semakin menurun. Food and Agricultural Organization (FAO) mendefenisikan HHNK sebagai produk selain kayu yang berasal dari bahan biologis diperoleh dari hutan dan pepohonan yang tumbuh di sekitar hutan. Perubahan paradigma dalam pengelolaan hytan semakin cenderung kepada pengelolaan kawasan (ekosistem hutan secara utuh), juga telah menuntut diversifikasi hasil hutan selain kayu (Sudarmalik, 2006).

Hasil hutan non kayu (HHNK) pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit dan buah. Pemungutan HHNK pada umumnya merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada di sekitar hutan dan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan HHNK merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) kelompok buah-buahan, menghitung nilai ekonomi dan besarnya kontribusi HHNK kelompok buah-buahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis HHNK kelompok buah-buahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong antara lain: kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku, aren.

Tujuan

  1. Agar kita dapat mengetahui apa itu pemanfaatan ekonomi sumber daya hutan
  2. Agar kita mengetahui sedikit banyaknya besar dari nilai ekonomi sumber daya hutan yang ada di kawasan hutan Mandailing Natal
  3.   Agar kita mengetahui analisis sumberdaya hutan kawasan hutan tertentu Mandailing Natal

Jenis-jenis Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu

Pemungutan HHNK pada umumnya merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada disekitar hutan. Jenis hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dapat dilihat pada Tabel .

Tabel 1. Jenis HHNK yang Dimanfaatkan Oleh Masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntongg

                                                                                                                                                                     

No               Jenis Hasil Hutan                 Responden yang Memanfaatkan (orang)       

                                                              Desa Guo Batu   %      Desa Simanguntong  %  

 

1     Kemiri (Aleurites moluccana)

15

50%

16

53%

2     Durian (Durio zibethinus)

18

60%

18

60%

3     Jengkol (Pithecollobium jiringa)

14

47%

13

43%

4     Pinang (Areca cathehu)

13

43%

16

53%

5     Manggis (Garcinia mangostana)

17

57%

14

47%

6     Langsat (Lansium domesticum var)

10

33%

15

50%

7     Petai (Parkia speciosa)

14

47%

18

60%

8     Duku (Lansium domesticum)

11

37%

15

50%

9     Aren (Arenga pinnata)

12

40%

14

47%

Hasil hutan yang umumnya dimanfaatkan masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong antara lain:

1.      Kemiri

Nama Latin dari Kemiri adalah Aleurites moluccana, bagian yang dimanfaatkan adalah biji buahnya. Kemiri pertama kali dipanen pada usia 4 tahun, pohon kemiri berbuah sekali dalam setahun dengan frekuensi pengambilan 4 kali dalam setahun. Biji buahnya banyak digunakan oleh masyarakat untuk bumbu masak dan untuk keperluan bahan industri. Hasil wawancara di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong menunjukkan bahwa dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan tumbuhan kemiri dengan rincian di Desa Guo Batu 15 orang dan di Desa Simanguntong 16 orang. Di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong di sekitar hutannya banyak dijumpai tumbuhan kemiri yang tumbuh secara alami.

1.      Durian

Nama Latin dari Durian adalah Durio zibethinus, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya . Buah durian sangat digemari o

leh setiap orang karena memiliki aroma yang harum serta rasanya yang enak. Durian dapat dipanen setelah berumur 10-15 tahun dan buah durian dipanen sekali dalam setahun. Produksi buah durian per pohon tidak memiliki nilai yang real, tergantung kepada pohon durian tersebut, apabila pohon durian masih berumur muda maka produksi buah per pohon sedikit dan sebaliknya pohon durian yang telah berumur tua maka produksi buahnya banyak. Pengelolaan tumbuhan durian di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong merupakan salah satu contoh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya. Hasil utama yang diperoleh adalah buah yang dihasilkan oleh tumbuhan durian yang kemudian akan dipasarkan atau dijual ke pasar sebagai penambah pendapatan masyarakat petani setempat.

2.      Jengkol

Nama Latin dari Jengkol adalah Pithecollobium jiringa, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Masa panen jengkol pada usia 10-15 tahun dengan frekuensi masa panen jengkol dalam setahun hanya 1 kali. Satu pohon jengkol dapat menghasilkan kurang lebih 150-200 kg. Buah jengkol digemari karena dapat merangsang selera pada saat makan.

3.      Pinang

Nama Latin dari Pinang adalah Areca catechu, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Pinang mulai dipanen pada usia 5 tahun, tumbuhan pinang berbuah sekali dalam setahun dengan frekuensi pengambilan 2 kali dalam setahun. Pinang dapat dipanen dengan cara memanen buah pinang yang telah berguguran di permukaan tanah. Buah pinang digunakan sebagai campuran minuman, makanan serta obat-obatan. Tumbuhan pinang yang ada di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong tumbuh subur tanpa harus di pupuk, pinang juga biasanya dijadikan sebagai pembatas lahan antara lahan yang satu dengan yang lainnya. Banyak masyarakat yang memanfaatkan pinang, karena pinang tidak memerlukan perawatan dan perlakuan yang teratur ditambah lagi pinang terus menghasikan buah

4.      Manggis

Nama Latin dari Manggis adalah Grancinia mangostana, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Manggis bisa menghasilkan buah setelah berumur 8-10 tahun dan hanya berbuah sekali dalam setahun. Produksi buah manggis dapat menghasilkan rata-rata 300-400 kg/pohon selama satu musim panen. Buahnya yang memiliki rasa manis, segar dan berair membuat konsumen menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya. Hasil wawancara dari petani Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan buah manggis dengan rincian di Desa Guo Batu sebanyak 17 orang dan di Desa Simanguntong sebanyak 14 orang.

5.      Manggis

Nama Latin dari Manggis adalah Grancinia mangostana, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Manggis bisa menghasilkan buah setelah berumur 8-10 tahun dan hanya berbuah sekali dalam setahun. Produksi buah manggis dapat menghasilkan rata-rata 300-400 kg/pohon selama satu musim panen. Buahnya yang memiliki rasa manis, segar dan berair membuat konsumen menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya. Hasil wawancara dari petani Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan buah manggis dengan rincian di Desa Guo Batu sebanyak 17 orang dan di Desa Simanguntong sebanyak 14 orang. 


Nilai Ekonomi Hasil Hutan Non Kayu

              Belum tersedianya informasi nilai (harga) dari produk HHNK, maka diperlukan suatu usaha kreatif untuk menduga nilai ekonomi dari HHNK. Secara umum manfaat HHNK dapat berasal dari penggunaan sumber daya alamnya yang dapat dinilai dengan harga pasarnya seperti rotan, bambu, aren, durian, dan lain sebagainya. Untuk HHNK yang tidak mempunyai harga pasar, penilainya dapat dilakukan dengan menggunakan metode harga pengganti, karena sebenarnya nilai ekonomi HHNK tidak hanya dapat dihitung dengan harga pasar saja, tetapi dapat dihitung dengan menggunakan harga pengganti.

              Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan kepada 60 responden dari masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong memiliki nilai HHNK yang cukup tinggi dibandingkan dengan hasil di luar HHNK. Nilai ekonomi HHNK diperoleh dari perkalian total pengambilan perjenis pertahun dengan harga hasil hutan perjenis pertahun dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Persentasi Nilai HHNK yang Dimanfaatkan Masyarakat di Desa Guo Batu

No

Jenis Hasil Hutan

Total Pengambilan (unit/tahun)

F

TP

Satuan

Harga

Jumlah (Rp)

Persentasi Nilai Ekonomi (%)

1

Kemiri

3350

4

13400

Kg

4.000

53.600.000

21,88

2

Durian

13550

1

13550

Buah

5.000

67.750.000

27,66

3

Jengkol

3150

1

3150

Kg

3.700

11.650.000

4,76

4

Pinang

2900

2

5800

Kg

5.300

30.740.000

12,55

5

Manggis

685

5

3425

Kg

2.000

6.850.000

2,8

6

Langsat

1385

1

1385

Kg

3.000

4.155.000

1,7

7

Petai

1925

1

1925

Kg

15.000

28.875.000

11,79

8

Duku

2620

1

2620

Kg

4.000

10.480.000

4,28

9

Aren

158

130

20540

Liter

1.500

30.810.000

12,58

 

Total

 

 

 

 

 

244.910.000

100

 

Ket :    F = Frekuensi Pengambilan

TP = Total Pengambilan/tahun (Jlh x F)

Nilai ekonomi hasil hutan diperoleh dari perkalian total pengambilan per jenis pertahun dengan harga hasil hutan per jenis. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat di Desa Guo Batu Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal sebesar Rp. 244.910.000,- per tahun. Nilai ini diperoleh dari penjumlahan total hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat seperti kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku dan aren. Jelas terlihat bahwa masyarakat berhasil dalam memanen berbagai jenis HHNK dalam ukuran yang sangat banyak. Hal itu membuktikan bahwa masyarakat mampu mengelola hasil hutan dengan baik, sehingga produksi yang dihasilkan dari hutan berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemanfaatan HHNK memberikan nilai guna langsung bagi masyarakat. Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari pamanfaatan hasil hutan oleh masyarakat di Desa Simanguntong Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal sebesar Rp. 208.272.000,- per tahun. Nilai ini diperoleh dari penjumlahan total hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat seperti kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku dan aren.

Tabel 3. Persentasi Nilai Ekonomi HHNK yang Dimanfaatkan Masyarakat di Desa Simanguntong.

No

Jenis Hasil Hutan

Total Pengambilan (unit/tahun)

F

TP

Satuan

Harga

Jumlah (Rp)

Persentasi Nilai Ekonomi (%)

1

Kemiri

3200

4

12800

Kg

4.000

51.200.000

24,59

2

Durian

5560

1

5560

Buah

5.000

27.800.000

13,35

3

Jengkol

2120

1

2120

Kg

3.700

7.844.000

3,77

4

Pinang

2730

2

5460

Kg

5.300

28.938.000

13,89

5

Manggis

725

5

3625

Kg

2.000

7.250.000

3,48

6

Langsat

1570

1

1570

Kg

3.000

4.710.000

2,26

7

Petai

2090

1

2090

Kg

15.000

31.350.000

15,05

8

Duku

3130

1

3130

Kg

4.000

12.520.000

6,01

9

Aren

188

130

24440

Liter

1.500

36.660.000

17,6

 

Total

 

 

 

 

 

208.272.000

100

 

Ket :       F = Frekuensi Pengambilan

TP = Total Pengambilan/tahun (Jmlh x F)

Dapat diketahui bahwa dari semua jenis-jenis HHNK yang ada di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong yang dipungut oleh masyarakat yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi serta memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan masyarakat adalah pemanfaatan buah durian dengan nilai ekonomi Rp. 67.750.000,-/tahun atau persentasi jenis sebesar 27,66% di Desa Guo Batu dan di Desa Simanguntong pemanfaatan terbesarnya adalah kemiri dengan nilai ekonomi sebesar Rp. 51.200.000,-/tahun atau persentasi jenis sebesar 24,59% dari jumlah total keseluruhan nilai hasil hutan yang dimanfaatkan.

Pendapatan utama masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong tidak hanya berasal dari pemanfaatan hasil hutan non kayu, melainkan memiliki beragam profesi seperti wirausaha, peternak, PNS, pensiunan PNS, perangkat desa, karyawan serta bidang pertanian dan semua dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Pendapatan Rumah Tangga Per Tahun di Luar Pemanfaatan HHNK Desa Guo Batu.

No

Sumber Pendapatan

Jumlah (Rp)

Persentasi (%)

1

Wirausaha

11.300.000

3,40%

2

Peternak

5.500.000

1,66%

3

PNS

24.000.000

7,23%

4

Pensiunan PNS

25.000.000

7,53%

5

Perangkat Desa

15.000.000

4,52%

6

Karyawan

26.000.000

7,83%

7

Pertanian

225.200.000

67,83%

 

Total

332.000.000

100%

              

Tabel 4 menunjukkan bahwa sumber pendapatan terbesar Desa Guo Batu adalah berasal dari pertanian yakni sebesar Rp. 225.200.000,-/tahun dengan persentasi 67,83% dan sumber pendapatan terendah berasal dari peternak sebesar Rp. 5.500.000,-/tahun dengan persentasi 1,66%. Nilai ekonomi pendapatan dari luar pemanfaatan HHNK sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun dari jumlah total hasil sumber pendapatan dari wirausaha, peternak, PNS, pensiunan PNS, perangkat desa, karyawan dan bidang pertanian.

Pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari pemanfaatan hasil hutan non kayu oleh masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong. Pendapatan total masyarakat responden Desa Guo Batu Kecamatan Batang Natal sebesar Rp. 576.910.000,-/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pendapatan masyarakat Desa Guo Batu dari hasil memanfaatkan hasil hutan non kayu berupa jumlah keseluruhan dari nilai ekonomi yang dimanfaatkan mereka yaitu sebesar Rp. 244.910.000,-/tahun atau sekitar 42%. Sedangkan hasil dari luar pemanfaatan hasil hutan non kayu seperti wirausaha, peternak, PNS, pensiunan PNS, perangkat desa, karyawan dan pertanian (pisang, coklat, getah karet, jagung dll) memperoleh hasil nilai manfaat ekonomi sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun atau sekitar 58%. Pendapatan dari luar hasil hutan non kayu diperoleh dari hasil selisih pendapatan total dengan jumlah pendapatan dari hasil hutan non kayu atau jumlah total nilai ekonomi hasil hutan.

sumberdaya alam yang paling bernilai dari hutan bagi masyarakat yang berada disekitar hutan. Selain nilai ekonominya yang besar, pemungutan HHNK tidak menyebabkan kerusakan hutan sehingga tidak akan mengakibatkan hilangnya fungsi-fungsi dan nilai jasa dari hutan baik dari segi ekologi serta hidrologinya. Ini artinya paradigma baru kehutanan memandang hutan sebagai sistem sumberdaya yang bersifat multifungsi serta pemanfaatannya diarahkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sudah mulai terwujud.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.    Jenis-jenis HHNK yang dimanfaatkan masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong adalah kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku, aren.

2.    Nilai ekonomi pemanfaatan HHNK di Desa Guo Batu dengan pemanfaatan nilai ekonomi terbesar adalah durian sebesar Rp. 67.750.000,-/tahun atau sekitar 27,66% dan pemanfaatan nilai ekonomi terkecil adalah langsat sebesar Rp. 4.155.000,-/tahun atau sekitar 1,7%. Nilai ekonomi pemanfaatan HHNK di Desa Simanguntong dengan pemanfaatan nilai ekonomi terbesar adalah kemiri sebesar Rp. 51.200.000,-/tahun atau sekitar 24,59% dan pemanfaatan nilai ekonomi terkecil adalah langsat sebesar Rp. 4.710.000,-/tahun atau sekitar 2,26%.

3.   Kontribusi HHNK terhadap pendapatan masyarakat di Desa Guo Batu sebesar Rp. 244.910.000.-/tahun atau sekitar 42% dan Desa Simanguntong sebesar Rp. 208.272.000,-/tahun atau sekitar 35%.

Saran

Diharapkan peran serta pihak pemerintahan untuk memperbaiki jalan yang rusak agar masyarakat dapat dengan mudah memasarkan hasil hutan non kayu. Serta perlunya perhatian khusus untuk pemasaran hasil hutan non kayu, agar distribusi pemasaran hasil hutan non kayu lebih efisien.


DAFTAR PUSTAKA

Affandi, O., dan P. Patana. 2002. Laporan Kegiatan Identifikasi Lingkungan Sosial di Kawasan Hutan dan Sekitarnya (Studi Kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali Kec. Sipirok, Tapanuli Selatan). Kerjasama Pusat Studi Wanita-Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara dan Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. Medan.

Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Yogyakarta.

Bachruni. 1999. Penilaian Sumber Daya Hutan dan Lingkungan. IPB. Bogor. Bishop, J. T. 1999. Valuing Forests : A Review of Methods and Applications in

Developing    Countries.    International    Institute    for    Environment    and Development. London.

Djajapertjuanda, S. 2001. Studi Kolaborasi Pengelolaan Repong Damar Kruing Lampung. Penerbit Syafa’at Advertesing bekerja sama dengan Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat.

Dephut. 2002. Pedoman Pengembangan Usaha Budidaya Gaharu. Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rakyat. Jakarta.

Departemen Kehutanan. 2009. Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010-2015.

Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

Lidiawati, I. 2003. Penelitian Ekonomi Kerusakan Hutan dan Lahan Akibat Kebakaran. IPB. Bogor.

Nurapriyanto, I., A. Tuharea., dan N. Arifin. 2011. Sistem Pengusahaan Beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu dan Alur Tataniaganya di Jayapura, Papua Teori- teori Kesejahteraan. Papua.

Oka, P dan A, Achmad. 2005. Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Penghidupan Masyarakat Hutan. Universitas Hassanuddin. Makassar.

Primack, R. B. 1993. Essentials of Conservation Biology. Sinauer Associates Inc.

Massachusetts USA.



Komentar