Analisis Manfaat Ekonomi Pada Kawasan Hutan Di Mandailig Natal
ANALISIS NILAI EKONOMI DAN KONTRIBUSI HASIL HUTAN NON KAYU DI WILAYAH TERTENTU KPHP
MODEL MANDAILING NATAL
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Fara Salsabila
Syafni Lubis
191201087
HUT 4 D
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur Penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga Penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan dengan
judul “Analisis Nilai Ekonomi dan Kontribusi Hasil hutan Non Kayu di Wilayah
Tertentu KPHP Model Mandailing Natal” ini dengan baik. Pada Kesempatan
ini Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu
Penulis dalam penyelesaian paper ini, diantaranya Dosen Penganggung jawab Bapak
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si. yang telah bersedia menuangkan ilmu dan
waktunya untuk membimbing Penulis beserta rekan-rekan yang lain.
Penulis menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dari Paper ini, baik dari materi maupun teknik
penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Medan, Maret 2021
Penulis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan adalah kumpulan
fungsi biotis yang didominasi oleh
pepohonan pada areal luas yang mendukung pengurusan kompleksitas flora fauna dan membentuk perbedaan struktur ikim mikro. Apabila dibandingkan dengan bentuk penggunaan lahan yang lain, ada tipe hutan yang terbentuk berdasarkan pengkelasan karakteristiknya, yaitu fungsi yang terbentuk bukan hanya untuk
menyediakan sumberdaya alam dengan jumlah besar, namun untuk membentuk keragaman dari fungsi lingkungan (tata
air, udara dan tanah), hingga fungsi sosial budaya
untuk dimanfaatkan secara menyeluruh
dan lestari.
Hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan
yang disebabkan oleh berbagai
kegiatan manusia, misalnya perambahan hutan, perladangan berpindah- pindah,
penebangan hutan, proyek pembangunan seperti
pertambangan, transmigrasi dan
pembangunan jalan. Untuk menghindari terjadinya kerusakan hutan, bahkan timbulnya lahan kritis,
langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan
memanfaatkan hutan sesuai fungsi. Perlu diketahui bahwa tidak semua fungsi hutan itu sama. Perlu dilakukan
penerapan konsep budidaya hutan secara tepat sesuai dengan jenis dan tipe hutan
(Indriyanto, 2008).
Hasil hutan non kayu
(HHNK) semula disebut hasil hutan ikutan yang
berasal dari bagian pohon atau tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat khusus yang dapat menjadi suatu barang yang
diperlukan oleh masyarakat, dijual sebagai komoditi
ekspor atau sebagai bahan baku untuk suatu industri. Hasil hutan non kayu pada umumnya merupakan hasil
sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah,
daun, kulit, buah atau berupa tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Pemungutan HHNK pada umumnya
merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada di sekitar
hutan, bahkan di beberapa tempat,
kegiatan pemungutan HHNK merupakan kegiatan utama sebagai
sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagai contoh,
pengumpulan rotan dan pemungutan getah (Djajapertjuanda, 2001).
Peran HHNK akhir-akhir ini dianggap semakin
penting setelah produktivitas kayu dari hutan alam semakin
menurun. Food and Agricultural Organization (FAO) mendefenisikan HHNK sebagai produk selain
kayu yang berasal dari bahan biologis
diperoleh dari hutan dan pepohonan yang tumbuh di sekitar hutan. Perubahan paradigma dalam pengelolaan hytan
semakin cenderung kepada pengelolaan
kawasan (ekosistem hutan secara utuh), juga telah menuntut diversifikasi hasil hutan selain kayu
(Sudarmalik, 2006).
Hasil hutan non kayu (HHNK) pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit dan buah. Pemungutan HHNK pada umumnya merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada di sekitar hutan dan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan HHNK merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) kelompok buah-buahan, menghitung nilai ekonomi dan besarnya kontribusi HHNK kelompok buah-buahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis HHNK kelompok buah-buahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong antara lain: kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku, aren.
Tujuan
- Agar kita dapat mengetahui apa itu pemanfaatan ekonomi sumber daya hutan
- Agar kita mengetahui sedikit banyaknya besar dari nilai ekonomi sumber daya hutan yang ada di kawasan hutan Mandailing Natal
- Agar kita mengetahui analisis sumberdaya hutan kawasan hutan tertentu Mandailing Natal
Jenis-jenis Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu
Pemungutan HHNK pada umumnya merupakan kegiatan tradisional dari masyarakat yang berada disekitar hutan. Jenis hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dapat dilihat pada Tabel .
Tabel 1. Jenis HHNK yang Dimanfaatkan Oleh Masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntongg
No Jenis Hasil Hutan Responden yang Memanfaatkan (orang)
Desa Guo Batu % Desa Simanguntong %
|
1 Kemiri (Aleurites moluccana) |
15 |
50% |
16 |
53% |
|
2 Durian (Durio zibethinus) |
18 |
60% |
18 |
60% |
|
3 Jengkol (Pithecollobium jiringa) |
14 |
47% |
13 |
43% |
|
4 Pinang (Areca cathehu) |
13 |
43% |
16 |
53% |
|
5 Manggis (Garcinia mangostana) |
17 |
57% |
14 |
47% |
|
6 Langsat (Lansium domesticum var) |
10 |
33% |
15 |
50% |
|
7 Petai (Parkia speciosa) |
14 |
47% |
18 |
60% |
|
8 Duku (Lansium domesticum) |
11 |
37% |
15 |
50% |
|
9 Aren (Arenga pinnata) |
12 |
40% |
14 |
47% |
Hasil hutan yang umumnya dimanfaatkan masyarakat Desa
Guo Batu dan Desa Simanguntong antara lain:
1.
Kemiri
Nama Latin dari Kemiri adalah Aleurites moluccana, bagian yang dimanfaatkan adalah biji buahnya. Kemiri
pertama kali dipanen pada usia 4 tahun, pohon
kemiri berbuah sekali dalam setahun dengan frekuensi pengambilan 4 kali dalam setahun. Biji buahnya banyak
digunakan oleh masyarakat untuk bumbu masak dan untuk keperluan bahan industri. Hasil
wawancara di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong menunjukkan bahwa
dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan tumbuhan
kemiri dengan rincian di Desa Guo Batu 15 orang dan di Desa Simanguntong
16 orang. Di Desa Guo Batu dan Desa
Simanguntong di sekitar hutannya banyak dijumpai tumbuhan kemiri yang tumbuh secara alami.
1.
Durian
Nama Latin dari Durian adalah Durio zibethinus, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya . Buah durian sangat digemari o
leh setiap orang karena memiliki aroma yang harum serta rasanya yang enak. Durian dapat dipanen setelah berumur 10-15 tahun dan buah durian dipanen sekali dalam setahun. Produksi buah durian per pohon tidak memiliki nilai yang real, tergantung kepada pohon durian tersebut, apabila pohon durian masih berumur muda maka produksi buah per pohon sedikit dan sebaliknya pohon durian yang telah berumur tua maka produksi buahnya banyak. Pengelolaan tumbuhan durian di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong merupakan salah satu contoh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya. Hasil utama yang diperoleh adalah buah yang dihasilkan oleh tumbuhan durian yang kemudian akan dipasarkan atau dijual ke pasar sebagai penambah pendapatan masyarakat petani setempat.
2.
Jengkol
Nama Latin dari Jengkol
adalah Pithecollobium jiringa, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Masa panen
jengkol pada usia 10-15 tahun dengan frekuensi
masa panen jengkol dalam setahun hanya 1 kali. Satu pohon jengkol dapat menghasilkan kurang lebih 150-200
kg. Buah jengkol
digemari karena dapat
merangsang selera pada saat makan.
3.
Pinang
Nama
Latin dari Pinang adalah Areca catechu,
bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya.
Pinang mulai dipanen
pada usia 5 tahun, tumbuhan
pinang berbuah sekali dalam setahun
dengan frekuensi pengambilan 2 kali dalam setahun.
Pinang dapat dipanen dengan cara memanen buah pinang yang telah berguguran di permukaan tanah. Buah pinang digunakan sebagai
campuran minuman, makanan serta obat-obatan. Tumbuhan pinang yang ada di Desa Guo Batu dan Desa
Simanguntong tumbuh subur tanpa harus di pupuk, pinang juga biasanya dijadikan
sebagai pembatas lahan antara
lahan yang satu dengan yang lainnya. Banyak masyarakat yang memanfaatkan pinang,
karena pinang tidak memerlukan perawatan
dan perlakuan yang teratur ditambah
lagi pinang terus menghasikan buah
4.
Manggis
Nama Latin dari Manggis adalah Grancinia mangostana, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Manggis bisa menghasilkan buah setelah berumur 8-10 tahun dan hanya berbuah sekali dalam setahun. Produksi buah manggis dapat menghasilkan rata-rata 300-400 kg/pohon selama satu musim panen. Buahnya yang memiliki rasa manis, segar dan berair membuat konsumen menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya. Hasil wawancara dari petani Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan buah manggis dengan rincian di Desa Guo Batu sebanyak 17 orang dan di Desa Simanguntong sebanyak 14 orang.
5.
Manggis
Nama Latin dari Manggis adalah Grancinia mangostana, bagian yang dimanfaatkan adalah buahnya. Manggis bisa menghasilkan buah setelah berumur 8-10 tahun dan hanya berbuah sekali dalam setahun. Produksi buah manggis dapat menghasilkan rata-rata 300-400 kg/pohon selama satu musim panen. Buahnya yang memiliki rasa manis, segar dan berair membuat konsumen menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya. Hasil wawancara dari petani Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong dari 60 responden ada 31 orang yang memanfaatkan buah manggis dengan rincian di Desa Guo Batu sebanyak 17 orang dan di Desa Simanguntong sebanyak 14 orang.
Nilai Ekonomi
Hasil Hutan Non Kayu
Belum tersedianya informasi
nilai (harga) dari produk HHNK, maka diperlukan suatu usaha kreatif untuk
menduga nilai ekonomi dari HHNK. Secara umum
manfaat HHNK dapat berasal dari penggunaan sumber daya alamnya yang dapat dinilai dengan harga pasarnya
seperti rotan, bambu, aren, durian, dan lain
sebagainya. Untuk HHNK yang tidak mempunyai harga pasar, penilainya
dapat dilakukan dengan menggunakan
metode harga pengganti, karena sebenarnya nilai ekonomi HHNK tidak hanya dapat dihitung dengan harga pasar saja,
tetapi dapat dihitung dengan
menggunakan harga pengganti.
Berdasarkan
penelitian yang sudah dilakukan kepada 60 responden dari masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong memiliki nilai
HHNK yang cukup tinggi dibandingkan
dengan hasil di luar HHNK. Nilai ekonomi HHNK diperoleh
dari perkalian total pengambilan perjenis pertahun dengan harga hasil hutan perjenis
pertahun dapat dilihat pada Tabel 2
dan Tabel 3.
Tabel 2. Persentasi Nilai HHNK yang Dimanfaatkan Masyarakat di Desa Guo Batu
|
No |
Jenis Hasil
Hutan |
Total Pengambilan (unit/tahun) |
F |
TP |
Satuan |
Harga |
Jumlah (Rp) |
Persentasi Nilai
Ekonomi (%) |
|
1 |
Kemiri |
3350 |
4 |
13400 |
Kg |
4.000 |
53.600.000 |
21,88 |
|
2 |
Durian |
13550 |
1 |
13550 |
Buah |
5.000 |
67.750.000 |
27,66 |
|
3 |
Jengkol |
3150 |
1 |
3150 |
Kg |
3.700 |
11.650.000 |
4,76 |
|
4 |
Pinang |
2900 |
2 |
5800 |
Kg |
5.300 |
30.740.000 |
12,55 |
|
5 |
Manggis |
685 |
5 |
3425 |
Kg |
2.000 |
6.850.000 |
2,8 |
|
6 |
Langsat |
1385 |
1 |
1385 |
Kg |
3.000 |
4.155.000 |
1,7 |
|
7 |
Petai |
1925 |
1 |
1925 |
Kg |
15.000 |
28.875.000 |
11,79 |
|
8 |
Duku |
2620 |
1 |
2620 |
Kg |
4.000 |
10.480.000 |
4,28 |
|
9 |
Aren |
158 |
130 |
20540 |
Liter |
1.500 |
30.810.000 |
12,58 |
|
|
Total |
|
|
|
|
|
244.910.000 |
100 |
Ket : F = Frekuensi Pengambilan
TP = Total Pengambilan/tahun (Jlh x F)
Nilai ekonomi hasil hutan diperoleh dari perkalian total pengambilan per jenis pertahun dengan harga hasil hutan
per jenis. Berdasarkan hasil penelitian pada
Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai ekonomi
dari pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat di Desa Guo Batu Kecamatan
Batang Natal Kabupaten
Mandailing Natal sebesar Rp. 244.910.000,- per tahun. Nilai ini
diperoleh dari penjumlahan total hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat seperti kemiri,
durian, jengkol, pinang, manggis,
langsat, petai, duku dan aren. Jelas terlihat
bahwa masyarakat berhasil dalam memanen berbagai jenis HHNK dalam ukuran yang sangat banyak. Hal itu membuktikan
bahwa masyarakat mampu mengelola hasil
hutan dengan baik, sehingga produksi yang dihasilkan dari hutan berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat dan
pemanfaatan HHNK memberikan nilai guna
langsung bagi masyarakat. Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari pamanfaatan hasil hutan oleh masyarakat di Desa Simanguntong Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal sebesar Rp. 208.272.000,- per tahun. Nilai ini diperoleh
dari penjumlahan total hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat seperti kemiri,
durian, jengkol, pinang, manggis, langsat, petai, duku dan aren.
Tabel 3. Persentasi Nilai Ekonomi HHNK yang Dimanfaatkan Masyarakat di Desa Simanguntong.
|
No |
Jenis Hasil Hutan |
Total Pengambilan (unit/tahun) |
F |
TP |
Satuan |
Harga |
Jumlah (Rp) |
Persentasi Nilai
Ekonomi (%) |
|
1 |
Kemiri |
3200 |
4 |
12800 |
Kg |
4.000 |
51.200.000 |
24,59 |
|
2 |
Durian |
5560 |
1 |
5560 |
Buah |
5.000 |
27.800.000 |
13,35 |
|
3 |
Jengkol |
2120 |
1 |
2120 |
Kg |
3.700 |
7.844.000 |
3,77 |
|
4 |
Pinang |
2730 |
2 |
5460 |
Kg |
5.300 |
28.938.000 |
13,89 |
|
5 |
Manggis |
725 |
5 |
3625 |
Kg |
2.000 |
7.250.000 |
3,48 |
|
6 |
Langsat |
1570 |
1 |
1570 |
Kg |
3.000 |
4.710.000 |
2,26 |
|
7 |
Petai |
2090 |
1 |
2090 |
Kg |
15.000 |
31.350.000 |
15,05 |
|
8 |
Duku |
3130 |
1 |
3130 |
Kg |
4.000 |
12.520.000 |
6,01 |
|
9 |
Aren |
188 |
130 |
24440 |
Liter |
1.500 |
36.660.000 |
17,6 |
|
|
Total |
|
|
|
|
|
208.272.000 |
100 |
Ket :
F =
Frekuensi Pengambilan
TP = Total Pengambilan/tahun (Jmlh x F)
Dapat diketahui bahwa dari semua jenis-jenis HHNK yang ada di Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong
yang dipungut oleh masyarakat yang
memiliki nilai ekonomi paling tinggi serta memberikan kontribusi terbesar terhadap
pendapatan masyarakat adalah
pemanfaatan buah durian dengan nilai ekonomi Rp. 67.750.000,-/tahun atau persentasi jenis
sebesar 27,66% di Desa Guo Batu dan di Desa Simanguntong
pemanfaatan terbesarnya adalah kemiri dengan nilai ekonomi sebesar Rp.
51.200.000,-/tahun atau persentasi jenis sebesar 24,59% dari jumlah total keseluruhan nilai hasil
hutan yang dimanfaatkan.
Pendapatan utama masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong tidak hanya berasal dari pemanfaatan hasil
hutan non kayu, melainkan memiliki beragam profesi
seperti wirausaha, peternak,
PNS, pensiunan PNS, perangkat desa, karyawan serta bidang pertanian
dan semua dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4. Pendapatan
Rumah Tangga Per Tahun di Luar Pemanfaatan HHNK Desa Guo Batu.
|
No |
Sumber Pendapatan |
Jumlah (Rp) |
Persentasi (%) |
|
1 |
Wirausaha |
11.300.000 |
3,40% |
|
2 |
Peternak |
5.500.000 |
1,66% |
|
3 |
PNS |
24.000.000 |
7,23% |
|
4 |
Pensiunan PNS |
25.000.000 |
7,53% |
|
5 |
Perangkat Desa |
15.000.000 |
4,52% |
|
6 |
Karyawan |
26.000.000 |
7,83% |
|
7 |
Pertanian |
225.200.000 |
67,83% |
|
|
Total |
332.000.000 |
100% |
Tabel 4 menunjukkan bahwa sumber pendapatan terbesar Desa Guo Batu adalah berasal dari pertanian yakni sebesar Rp. 225.200.000,-/tahun
dengan persentasi 67,83% dan sumber pendapatan terendah berasal dari peternak
sebesar Rp. 5.500.000,-/tahun dengan persentasi 1,66%.
Nilai ekonomi pendapatan dari luar pemanfaatan HHNK sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun
dari jumlah total hasil sumber pendapatan dari wirausaha, peternak,
PNS, pensiunan PNS, perangkat desa, karyawan dan bidang pertanian.
Pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari pemanfaatan hasil hutan non kayu oleh masyarakat Desa Guo Batu
dan Desa Simanguntong. Pendapatan total masyarakat responden Desa Guo Batu Kecamatan
Batang Natal sebesar
Rp. 576.910.000,-/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total
pendapatan masyarakat Desa Guo Batu
dari hasil memanfaatkan hasil hutan non kayu berupa jumlah keseluruhan dari nilai ekonomi yang dimanfaatkan mereka
yaitu sebesar Rp. 244.910.000,-/tahun
atau sekitar 42%. Sedangkan hasil dari luar pemanfaatan hasil hutan non kayu seperti wirausaha, peternak, PNS, pensiunan
PNS, perangkat desa, karyawan dan
pertanian (pisang, coklat, getah karet, jagung dll) memperoleh hasil
nilai manfaat ekonomi
sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun atau sekitar 58%. Pendapatan dari luar hasil hutan non kayu diperoleh
dari hasil selisih
pendapatan total dengan jumlah pendapatan dari hasil hutan non kayu atau
jumlah total nilai ekonomi hasil
hutan.
sumberdaya alam
yang paling bernilai dari hutan bagi masyarakat yang berada disekitar hutan. Selain nilai ekonominya
yang besar, pemungutan HHNK tidak menyebabkan kerusakan
hutan sehingga tidak akan mengakibatkan hilangnya fungsi-fungsi dan nilai jasa dari hutan baik dari segi ekologi
serta hidrologinya. Ini artinya paradigma
baru kehutanan memandang
hutan sebagai sistem sumberdaya yang bersifat multifungsi serta pemanfaatannya diarahkan
untuk mewujudkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
sudah mulai terwujud.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Jenis-jenis
HHNK yang dimanfaatkan masyarakat Desa Guo Batu dan Desa Simanguntong adalah kemiri, durian, jengkol, pinang, manggis,
langsat, petai, duku, aren.
2.
Nilai ekonomi
pemanfaatan HHNK di Desa Guo Batu dengan
pemanfaatan nilai ekonomi
terbesar adalah durian sebesar Rp. 67.750.000,-/tahun atau sekitar
27,66% dan pemanfaatan nilai ekonomi terkecil adalah langsat sebesar Rp. 4.155.000,-/tahun atau sekitar 1,7%.
Nilai ekonomi pemanfaatan HHNK di Desa
Simanguntong dengan pemanfaatan nilai ekonomi terbesar adalah kemiri sebesar
Rp. 51.200.000,-/tahun atau sekitar 24,59% dan pemanfaatan nilai ekonomi terkecil
adalah langsat sebesar
Rp. 4.710.000,-/tahun atau sekitar 2,26%.
3.
Kontribusi
HHNK terhadap pendapatan masyarakat di Desa Guo Batu sebesar Rp. 244.910.000.-/tahun atau sekitar 42%
dan Desa Simanguntong sebesar Rp. 208.272.000,-/tahun atau sekitar 35%.
Saran
Diharapkan peran serta pihak
pemerintahan untuk memperbaiki jalan yang rusak
agar masyarakat dapat dengan mudah memasarkan hasil hutan non kayu. Serta perlunya perhatian khusus untuk pemasaran hasil hutan non kayu, agar distribusi pemasaran hasil hutan non kayu lebih efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, O., dan P. Patana. 2002. Laporan Kegiatan Identifikasi Lingkungan Sosial di Kawasan Hutan dan Sekitarnya (Studi Kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali Kec. Sipirok, Tapanuli Selatan). Kerjasama Pusat Studi Wanita-Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara dan Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. Medan.
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Yogyakarta.
Bachruni. 1999.
Penilaian Sumber Daya Hutan dan Lingkungan. IPB. Bogor. Bishop, J. T. 1999. Valuing Forests : A Review of Methods
and Applications in
Developing Countries. International Institute for Environment and Development. London.
Djajapertjuanda, S. 2001. Studi Kolaborasi
Pengelolaan Repong Damar Kruing Lampung. Penerbit
Syafa’at Advertesing bekerja
sama dengan Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat.
Dephut. 2002. Pedoman Pengembangan Usaha Budidaya
Gaharu. Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rakyat. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2009. Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010-2015.
Indriyanto. 2008. Pengantar Budidaya Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.
Lidiawati, I. 2003. Penelitian Ekonomi
Kerusakan Hutan dan Lahan Akibat Kebakaran. IPB. Bogor.
Nurapriyanto, I., A. Tuharea., dan N. Arifin. 2011.
Sistem Pengusahaan Beberapa Hasil
Hutan Bukan Kayu dan Alur Tataniaganya di Jayapura, Papua Teori- teori Kesejahteraan. Papua.
Oka, P dan A, Achmad. 2005. Kontribusi Hasil Hutan
Bukan Kayu Terhadap Penghidupan Masyarakat Hutan. Universitas Hassanuddin. Makassar.
Primack, R. B. 1993. Essentials
of Conservation Biology. Sinauer Associates Inc.
Massachusetts USA.

Komentar
Posting Komentar